SOAL
Jelaskan dengan singkat, bagaimana gambaran dan cara mengatasi seseorang yang memiliki perilaku negativisme?
JAWAB
Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku yang sosial dan pola perilaku yang tidak sosial. Pola perilaku dalam situasi sosial banyak yang tampak tidak sosial atau bahkan antisosial, tetapi masing-masing tetap penting bagi proses sosialisasi. Landasan yang diletakkan pada masa kanak-kanak awal akan menentukan cara anak menyesuaikan diri dengan orang lain.
Salah satu pola perilaku yang tidak sosial adalah naturalisme. Naturalisme dipelopori oleh J.J. Rousseau, mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut negativisme. Naturalisme memiliki prinsip tentang proses pembelajaran, bahwa anak didik belajar melalui pengalaman sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam diri secara alami. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar tergantung pada diri anak didik sendiri. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.
Menurut Elizabeth B. Hurlock, negativisme adalah perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu. Biasanya hal itu dimulai pada usia dua tahun dan mencapai puncaknya pada usia antara tiga dan enam tahun. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara setahap demi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menuruti perintah. Menurut Sunaryo, negativisme adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan atau menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Contohnya, seorang anak remaja menentang orang tua dan lari ke narkotik. Menurut Maulana, negativisme ditandai dengan tindakan yang menolak atau menentang nasihat, permintaan, dan perintah orang lain.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, anak lahir dengan kodrat atau pembawaannya masing-masing. Kekuatan kodrati yang ada pada anak adalah segala kekuatan dalam kehidupan batin dan lahir anak yang ada karena kekuasaan kodrat. Kodrat anak bisa baik dan bisa pula sebaliknya, dan kodrat itulah yang akan memberikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ki Hadjar Dewantara memandang bahwa pendidikan sifatnya hanya menuntun tumbuh kembangnya kekuatan-kekuatan kodrat yang dimiliki anak. Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar pembawaan anak, kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu tumbuh ke arah yang lebih baik. Pendidikan berfungsi menuntun anak yang berpembawaan tidak baik menjadi berbudi pekerti baik dan menuntun yang sudah berpembawaan baik menjadi lebih berkualitas lagi. Menurut Ki Hadjar Dewantara ada enam cara pokok menerapkan pendidikan yaitu: (1) memberi contoh, (2) pembiasaan, (3) pengajaran, (4) perintah, paksaan, dan hukuman, (5) disiplin diri sendiri, serta (6) pengalaman lahir dan batin secara langsung.
Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang dewasa dalam menghadapi remaja yang memiliki perilaku negativisme adalah sebagai berikut. Harus sabar, hangat, dan ikhlas, dapat berdialog dengan hati terbuka, mendengarkan dan berusaha membantu dalam memecahkan persoalannya. Tidak banyak melarang, tetapi lebih permisif. Mencoba menghargai ide-ide dan cita-citanya. Memberikan contoh perilaku yang baik dan benar sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, serta bersedia menerima kritik remaja apabila hal tersebut memang diperlukan. Keluarga memegang peranan yang sangat penting karena keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membantu anak dan remaja mengenal dunia sekitarnya yang diatur oleh norma-norma, nilai-nilai kebudayaan masyarakat tempat ia berada. Selain itu, keluarga juga ikut memilih, menilai, dan menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam dunianya sendiri, selaras dengan aspirasi, harapan, dan latar belakang yang dimiliki. Keluarga juga menjadi penghubung antara si anak atau remaja dengan masyarakat luas dengan mengajarkan bagaimana ia harus bertindak terhadap siapa, dan dalam situasi yang bagaimana. Proses ini merupakan proses sosialisasi. Sikap-sikap tersebut sangat dibutuhkan dalam membantu proses mendewasakan anak dan remaja, sehingga memiliki kepribadian yang utuh.
Jelaskan dengan singkat, bagaimana gambaran dan cara mengatasi seseorang yang memiliki perilaku negativisme?
JAWAB
Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku yang sosial dan pola perilaku yang tidak sosial. Pola perilaku dalam situasi sosial banyak yang tampak tidak sosial atau bahkan antisosial, tetapi masing-masing tetap penting bagi proses sosialisasi. Landasan yang diletakkan pada masa kanak-kanak awal akan menentukan cara anak menyesuaikan diri dengan orang lain.
Salah satu pola perilaku yang tidak sosial adalah naturalisme. Naturalisme dipelopori oleh J.J. Rousseau, mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut negativisme. Naturalisme memiliki prinsip tentang proses pembelajaran, bahwa anak didik belajar melalui pengalaman sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan di dalam diri secara alami. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar tergantung pada diri anak didik sendiri. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.
Menurut Elizabeth B. Hurlock, negativisme adalah perlawanan terhadap tekanan dari pihak lain untuk berperilaku tertentu. Biasanya hal itu dimulai pada usia dua tahun dan mencapai puncaknya pada usia antara tiga dan enam tahun. Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara setahap demi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menuruti perintah. Menurut Sunaryo, negativisme adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan atau menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Contohnya, seorang anak remaja menentang orang tua dan lari ke narkotik. Menurut Maulana, negativisme ditandai dengan tindakan yang menolak atau menentang nasihat, permintaan, dan perintah orang lain.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, anak lahir dengan kodrat atau pembawaannya masing-masing. Kekuatan kodrati yang ada pada anak adalah segala kekuatan dalam kehidupan batin dan lahir anak yang ada karena kekuasaan kodrat. Kodrat anak bisa baik dan bisa pula sebaliknya, dan kodrat itulah yang akan memberikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ki Hadjar Dewantara memandang bahwa pendidikan sifatnya hanya menuntun tumbuh kembangnya kekuatan-kekuatan kodrat yang dimiliki anak. Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar pembawaan anak, kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu tumbuh ke arah yang lebih baik. Pendidikan berfungsi menuntun anak yang berpembawaan tidak baik menjadi berbudi pekerti baik dan menuntun yang sudah berpembawaan baik menjadi lebih berkualitas lagi. Menurut Ki Hadjar Dewantara ada enam cara pokok menerapkan pendidikan yaitu: (1) memberi contoh, (2) pembiasaan, (3) pengajaran, (4) perintah, paksaan, dan hukuman, (5) disiplin diri sendiri, serta (6) pengalaman lahir dan batin secara langsung.
Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang dewasa dalam menghadapi remaja yang memiliki perilaku negativisme adalah sebagai berikut. Harus sabar, hangat, dan ikhlas, dapat berdialog dengan hati terbuka, mendengarkan dan berusaha membantu dalam memecahkan persoalannya. Tidak banyak melarang, tetapi lebih permisif. Mencoba menghargai ide-ide dan cita-citanya. Memberikan contoh perilaku yang baik dan benar sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, serta bersedia menerima kritik remaja apabila hal tersebut memang diperlukan. Keluarga memegang peranan yang sangat penting karena keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membantu anak dan remaja mengenal dunia sekitarnya yang diatur oleh norma-norma, nilai-nilai kebudayaan masyarakat tempat ia berada. Selain itu, keluarga juga ikut memilih, menilai, dan menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam dunianya sendiri, selaras dengan aspirasi, harapan, dan latar belakang yang dimiliki. Keluarga juga menjadi penghubung antara si anak atau remaja dengan masyarakat luas dengan mengajarkan bagaimana ia harus bertindak terhadap siapa, dan dalam situasi yang bagaimana. Proses ini merupakan proses sosialisasi. Sikap-sikap tersebut sangat dibutuhkan dalam membantu proses mendewasakan anak dan remaja, sehingga memiliki kepribadian yang utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar